Current Achievement :
Blog's Layout Version 22 "2016 Badge" ― 29 January 2016
Blog's 700th Post ― 20 August 2016
Blog's 100.000 Visitors ―
20 August 2016

It`s easy! Just click labels below :

Diary | Event | Introduction | Resensi | Download | Birthday and Anniversary
Pet Society | Walt Disney | Korea | Japan | Pirates and the Mermaid
Pulang Sekolah Family | Cerita Panjang | Anime, Game, Cartoon Lists on Blog

Or type your keyboard that you are looking for on the box below, then click SEARCH

search?

Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Thursday, August 20, 2015

There Is No Glory In War!


YA —tak akan ada kemenangan dalam perang.
Kalian nggak salah baca koq.

resensi film edisi alay

Gue coba buat meresensi film lagi.
Kali ini film animasi fenomenal buatan anak bangsa sendiri.


SPOILER ALERT
some content contains spoiler details that I might not be aware of
gue coba bahas film sejamblang mungkin dengan spoiler sesedikit mungkin
just highlight some blank space to read the spoiler read at your own risk



BATTLE OF SURABAYA
There is no glory in war! 

BATTLE OF SURABAYA recounts to you the adventure of Musa, a spontaneous, brave, thirteen-year-old shoe shiner, who makes a living under the pressure of necessity or poverty in the era of Japanese colonialism. In spite of the fact that life is not easy, he leads a life patiently. To Musa, life is a choice. As a matter of fact, being a shoe shiner is not bad; still, such a job less leads to what he is struggling for, that is to say: patriotic spirit and peace, both based on divine values. Physically he is only a teenager; however, mentally he is a hero. He makes up his mind of choosing a job as a courier. Here, he is not a courier who merely delivers common letters, but the secret letters concerning the strategy of the war adopted from the true, pierce war that broke out in Indonesia, exactly in Surabaya on November 10th, 1945. It is worth for you watching this film to see how Musa, with such letters, mediates the youths of Surabaya in the war; and how the youths, who are armed only with bamboo spears, are able to win the war with the allied forces, while such forces, which are developed under the aegis of the Dutch government, are armed with modern weapons.




Battle of Surabaya menyajikan suguhan film animasi dengan tema nasionalis banget.

Release tanggal 20 Agustus 2015, tepat 3 hari setelah dirgahayu RI ke 70.
Sempat mikir juga kenapa nggak release pas 10 November aja biar kerasa banget Surabaya & Hari Pahlawannya, tapi suasana kemerdekaan 17 Agustus juga nggak salah koq buat lebih nonjolin rasa nasionalisme yang terkandung dalam film ini.

Gue langsung beli tiket nonton di TIM dari siang buat jam 19.00 WIB spesial buat nonton nih film. Hari perdana broh! Sebagai seseorang yang ngakunya cinta akan rasa nasionalisme, gue cukup mau buat belabelain nonton ini film di hari perdana, biar dibilangnya uptodate banget. Ingat yang gue bilang tadi, ini film animasi pertama asli garapan anak bangsa Indonesia sendiri, jadi gue cukup bangga dan bisa ngebanggain juga udah nonton film ini.

Mwahahahaha... ngakaksambilkayang

Gue sebenernya nggak begitu tau banget siapa yang buat, yang jadi sutradara, produsernya, ataupun siapapun yang terlibat dalam pembuatan film ini. Tapi film ini cukup hebat buat mampu merangkul dua aktor/is Indonesia buat jadi dubbernya; Reza Rahadian & Maudy Ayunda.

Setelah gue baca, ternyata ini garapan AMIKON YOGYAKARTA & MSV PICTURES. Nggak begitu ngerti juga sebenernya bagian produksi, cuma beberapa waktu lalu pernah baca juga Disney pengen ikut terlibat dalam pembuatan film ini. Tapi ending kesepakatan mereka, Disney cuma terlibat di bagian pendistribusiannya CMIIW. Disney kepincut banget sama film yang satu ini, entah kenapa. Tapi ini membuat nama Indonesia menjadi semakin bersinar di kancah internasional.

Quote film ini sendiri, nggak akan ada yang namanya kemenangan dalam peperangan.
Kalo gue artiin menurut pikiran random gue, peperangan itu nggak ada artinya broh, mau menang ataupun kalah samasama rugi. Memang yang menang bisa ngambil untung lebih dibanding yang kalah tapi tetap saja banyak ruginya dikedua belah pihak. Dampak paling terasa itu korban jiwa berjatuhan dimana-mana. Miris banget mikirin perang yang banyak ngerenggut banyak korban. Mau lu menang perang sekalipun, korban yang gugur banyak banget. Mereka yang berkorban memang siap mati buat mempertahankan harga diri dan kedaulatan mereka, but still... Nyawa manusia itu priceless.

Central character dalam Battle of Surabaya adalah seorang bocah ingusan bernama Musa, seorang penyemir sepatu yang juga jadi double agent sebagai kurir surat dari satu base ke base yang lain. Kita bakal ngikutin gerak-gerik Musa terus selama film ini berputar. Tipikal cowok dengan nasionalisme tinggi dan pemberani, Musa mampu menerjang musuh-musuhnya. Bahkan dia menyelamatkan dan mengampuni musuhnya, mengesampingkan egonya demi rasa kebaikan dan kemanusiaan.

Yumna, cewek protagonis kita. Sang heroine ini adalah sahabat Musa. Malah bisa gue sebut dia adalah pusat cinta dari Musa dan Danu. Ya, bumbu cinta dan romantisme masih terselip dalam film ini. Yumna jadi pujaan hati kedua cowok utama. Boleh dibilang dia adalah puncah dari cinta segitiga. Namun sayang, Yuman hanya menganggap mereka berdua sebagai sahabat dan kakak. Dia juga salah satu karakter kunci dalam usaha pejuang kita menginfiltrasi markas musuh,

Danu, karakter utama kita yang ketiga. Cukup tampan, tipikal kakak yang bisa diandalkan. Tapi sungguh disayangkan, dia itu pedofil. Dia suka sama Yumna yang notabene Yumna itu jauh lebih muda dari dia. Saat masa lalu Danu nyelametin Yumna, kita tau bahwa Danu sudah beranjak remaja dan Yumna masih kecil, sedangkan waktu present di film Yumna udah remaja dan Danu juga udah mulai menua tentu saja, tapi malah Danu suka sama Yumna, dan itu sungguh mengganggu. Gue pikir Danu itu late 20-an sedangkan Yuman (dan Musa) ada di early belasan mereka.

Plotnya sendiri cukup bagus, cuma ada beberapa bagian yang plotnya terlalu cepat. Belum dijelasin apa-apa, eh tau-taunya ceritanya udah advanced jauh banget. Atau mungkin guenya yang terlalu kolot? Nggak juga kan ya...

Ada bagian yang nyetuh hati banget, ada pula bagian yang isinya humornya juga. Tapi bukannya buat ketawa, gue malah agak miris pas lihat adegan itu. Humornya garing. Atau mungkin karena adegannya terlalu kaku. Dipaksain gitu agar bisa ngebuat adegan humor tapi kesannya malah kelihatan banget dipaksainnya. LOL

Banyak plot twist di ceritanya. Nggak nyangka tapi eh akhirnya tetep muter-muter di situ-situ aja. Kipas hitam, heh?

Ada bagian yang nggak nyambung juga menurut gue. Bagian dimana kejadian yang satu langsung nyambung ke adegan yang lain dan itu sama sekali nggak dijelasin kenapa, gimana caranya, koq bisa, dsb. Ada bagian yang dipaksain supaya bisa jadi utuh suatu kesatuan cerita, Ada bagian yang nggak penting banget —ini bener-bener nggak penting. Seharusnya bagian yang nggak penting ini bisa diganti jadi adegan lain seperti menceritakan atau menjelaskan too-advanced-plot yang ada di beberapa bagian. Oh ya, dan tentu saja ada juga bagian yang nggak masuk akal.

Overall, plotnya cakep. Suka banget sama endingnya. Menyentuh hati banget. Senang. Sedih. Takut, Jijik. Marah ini bukan promosi Inside Out lho— Miris. Bahagia. Bangga. Camput aduk hati ini dibuatnya. Nggak salah koq kalo lo bisa sampe nitikin air mata di adegan ini. Bikin merinding sih nggak juga, cuma lo bisa jadi terharu. YA —terharu, kata yang tepat. Terharu banget akan endingnya.

Tapi jangan dikata ini cuma film animasi lho ya!
Banyak kan yang menganggap remeh film animasi, yang kata mereka film animasi itu uma buat anak kecil, cuma buat bocah. Tapi mereka sendiri nggak tau bahwa pesan moral yang disampaikan di dalamnya sungguh bermakna. Ngena banget. Nasionalis banget. Mana tau bocah tetang nasionalisme? Justru kita sebagai seseorang yang katanya sudah dewasa harus bisa berpikir matang dan mem-filter film mana yang bagus dan berisikan pesan moral yang baik dan bermakna ketimbang tayangan yang nggak bermutu macam drama pasaran di luar sana.

Battle of Surabaya punya rating R13+ lho!
Ini artinya film ini ditujukan untuk para remaja (dan orang-orang) yang berusia 13 tahun dan di atasnya.
Bukan buat anak-anak lho, ini buat semua orang dengan usia 13 tahun ke atas!
Jadi intinya, ini bukan film gampangan yang bisa dicerna anak-anak malahan.

Ini film berdasarkan atas sejarah broh!
Sejarah Indonesia!
Kalo bukan kita yang nonton dan melestarikan serta membanggakan budaya dan sejarah Indonesia, lalu siapa lagi?

Di situs web rating film IMDb, Battle of Surabaya sudah memiliki rating 9.0 di hari pertama. Cukup hasil yang membanggakan. Battle of Surabaya bahkan telah mendulang keberhasilan dibeberapa ajang penghargaan. Sebagai juara!

Buat debut film animasi layar lebar Indonesia pertama, ini cukup terbilang sukses. Gue akui ini cukup membanggakan. Gue suka. Gue acungin jempol —empat jempol malah. Gue bisa bilang pada sekitar —bahkan kepada dunia— bahwa Indonesia juga nggak akan kalah, Indonesia bisa bangkit. Indonesia akan semakin bersinar di mata dunia.

Mwahahahaha... ngakaksambilsalto

Well, resensi yang cukup panjang namun nggak penting.
Gue nggak tau apa resensi ini ada intinya.
Gue tau resensi seperti ini banyak kekurangan. Tapi gue masih ingin terus belajar.

Kembali ke film, gue salut buat para creatornya. Gue nggak henti-hentinya buat acungin empat jempol. Emang cakep banget. Terima kasih banyak buat para sineas perfilman dan insan manusia yang sudah ngebuatin film animasi 2D pertama yang bakal jadi pelopor film animasi di Indonesia ini. Dan terima kasih pada rakyat Indonesia!

Jangan sia-siakan apa yang telah mereka —para pahlawan yang telah gugur mendahului kita— berikan kepada kita. Jangan sia-siakan pengorbanan mereka. Kita jaga kemerdekaan ini dan mari kita bangun Indonesia bersama-sama!

Jayalah Republik Indonesia!

Indonesia Raya merdeka.. merdeka.. tanahku negeriku yang kucinta!
Indonesia Raya merdeka.. merdeka.. HIDUPLAH INDONESIA RAYA!

Thursday, November 13, 2014

Intergalactic's Hero

Edisi alay. Edisi resensi film seadanya.
Gue sekarang mau nyoba ngeresensi film.

Jadi gue nonton. Tadi malam dan kemarin malam. Atau kemarin dan kemarinnya lagi. Big Hero 6 di hari Selasa dan Interstellar di hari Rabu. Malam. Nonton di Taman Ismail Marzuki XII seharga dua puluh lima ribu per tiket per film.

Oke pertama, ada Big Hero 6..

Untuk Big Hero 6 cukup promising. Ini film produksi Disney dan karena gue cukup suka sama Disney jadi gue enjoy aja nontonnya. San Fransokyo (dari San Francisco dan Tokyo), kota metropolotan yang kental dengan nuansa timur tradisional-oriental (Tokyo, Japan) dan nuansa barat modern (San Francisco, USA). Tentu gue suka semua yang berbau Jepang dan itu menambah ke-enjoy-an gue nontonnya pas dilihatin view kota San Fransokyo, apalagi ada pohon Sakura dan bangunan berbau Jepangnya.

Banyak bumbu kekeluargaan dan persahabatan di film ini, terutama kehangatan keluarganya (dan kehangatan Baymax). Keenam karakter bersatu untuk menumpas kejahatan dengan kekuatan yang unik hasil science dari lab kutu buku cukup keren.

Hiro adalah karakter yang keras kepala dan egois. Tapi protagonis memang seperti itu. Kebanyakan. Tentu saja lambat laun seiring berjalannya waktu si Hiro bisa lebih dewasa dan mampu mengontrol emosinya untuk menolong sesama. Di luar sifatnya, dia cukup sangat jenius untuk ukuran anak berumur 14 tahun. Baymax sendiri sebagai protagonis utama (selain Hiro) cukup cute dengan tubuh marshmallownya. Apalagi gaya tos tangannya, La la la la la~

Hero lainnya dalam tim, Honey Lemon cukup kreatif mengembangkan kekuatannya. Bola-bola itu comes in handy di saat yang tepat. Go Go Boy punya kecepatan super, lumayanlah. Go Go Dancer mengejar dan menandingi kecetana mikrobot yang dikendalikan si antagonis, itu cukup menegangkan saat unjuk kebolehan pertama kali. Sedangkan Wasabi kekuatannya cukup keren, apalagi waktu memotong apel menjadi lebaran tipis banget, walaupun dia sendiri sifatnya agak tunduk pada peraturan. Gue nggak bilang bahwa patuh pada peraturan itu nggak baik, tapi gue nggak begitu suka sama kalo terlalu tunduk. Dan gue setuju kalo Fred itu cukup mengganggu. Kekonyolannya kurang pantas masuk dalam tim. Tapi mungkin dalam suatu tim atau kelompok butuh seseorang dengan sosok penggembira dan pemeriah suasana seperti itu jangan lihat gue.

DAN gue suka banget sama karakter Tadashi Hamada. Dia sosok seorang kakak yang cukup perfect dan keren. Cocok untuk dijadikan role model. Suka dalam artian apapun *smirk build dan facenya keren banget

Endingnya bagus juga, Mereka menyelamatkan kota dari antagonis bertopeng kabuki yang mengendalikan mikrobot. Tak cukup di situ, mereka membawa pulang orang yang telah terlempar ke dalam portal teleportasi di tempat antah-berantah, walaupun ada bagian sedihnya yang mana Hiro harus meninggalkan Baymax di dalam sana. Well, mereka tetap menjadi hero (entah untuk menumpas apalagi) di San Fransokyo dan memang itulah tugas dari para pembela kebenaran.

Tapi adegan actionnya gue rasa masih kurang. Gue masih pengen ngelihat fight antara Big Hero 6 dan antagonisnya, pengen ngelihat kemampuan, kekuatan, skill, taktik bertarung, atau apalah itu dari para hero nya dalam menumpas kejahatan. Adegan sedihnya cukup ngena di hati (bahkan hampir buat nangis) tapi banyak pesan moral di balik semua itu.

Ratingnya sendiri cukup bagus, jadi film keluaran Disney tahun ini cukup worth it lah, nggak kalah dari Frozen tahun lalu. Disney memang TOP!

Next, ada Interstellar..

Interstellar gue pikir semacam film dokumenter (seperti Ocean), film tentang science dan luar angkasa. Tapi ternyata gue cukup salah menilainya. Walaupun ada bumbu science di dalamnya (dan juga NASA) tapi ini fiktif belaka. Gue yakin BANGET ini fiktif soalnya nggak ada yang pernah masuk dan keluar dari blackhole dengan selamat. Film ini berdurasikan 169 menit. Dua setengah jam lebih. Jarang ada film dengan durasi lama keg gini.

DAN TOLONG ilangin adegan muter-muternya. Gue nggak suka sama adegan muter-muter itu. Mau si roket, mau si pesawat induk, mau planetnya kelihatan muter, atau apalah itu semua, GUE NGGAK SUKA! Dammit.. Ini bahkan lebih horor daripada Annabelle.

Adegan menyentauhnya masih kurang dibanding Big Hero 6. Tapi tentu saja orang nggak nonton film ini kalo mau nyari moment menyentuh  dan menggetarkan jiwa. Walaupun memang endingnya cukup menggetarkan jiwa dan penuh harapan.

Banyak cerita yang kompleks di dalamnya, terutama lima dimensi. Dan gue sendiri sudah pusing kalo udah berhubungan sama raung dan waktu. Itu dua hal yang cukup kompleks dan nggak bisa dipikirkan nalar normal. Butuh ketelitian dan kesabaran ekstra tinggi untuk benar-benar mempelajari sistem ruang dan waktu. Tapi untuk film sendiri, unsur seperti ini cukup bisa dinikmati.

Gue membagi film ini menjadi 3 bagian; bagian konflik di bumi dan pesawat induk, bagian konflik dengan antagonis, dan bagian 5 dimensi ruang dan waktu.

Gue cukup yakin ini film lebih horor dari Annabelle (yang sama-sama release tahun ini). Ada unsur "hantu" di sepertiga awal film, tapi nanti akan dijelaskan di sepertiga akhir film koq tenang aja. Dan gue terus ngira itu alien biar rasa takut nggak ada yang muncul, hahaha.. Konflik dalam keluarganya sendiri cukup menyentuh.

YA, film ini ternyata ada antagonisnya. Gue juga cukup kaget ternyata muncul antagonis di pertengahan film. Padahal gue ngerasa ini cuma film adventure biasa tentang perjalanan luar angkasa tanpa antagonis. Dan padahal juga gue ngerasa bahwa dia akan jadi member baru dalam tim. "More people, more merrier", they said. Tapi tentu saja mereka bisa melenyapkan antagonis di klimaks dua pertiga film.

Sepertiga film akhir adalah bagian 5 dimensi ruang dan waktu atau bagian klimaks film. Bagian klimaks paling akhir ini adalah bagian paling kompleks. Bagian ini menjelaskan kejadian di sepertiga awal film dan konklusi dari bagian sebelumnya, well overall conclusion to be exact. Walaupun ini adalah penjelasan dan klimaks tapi tetap saja ini membingungkan. Gue nggak mau spoiler karena memang gue sendiri sebenernya susah buat jelasin hal beginian dan nggak tau harus ngejelasin dari mana ke mana.

Endingnya sendiri cukup menarik. Seperti yang gue bilang sebelumnya, endingnya cukup menggetarkan jiwa dan penuh harapan. Menyentuh memang dan buat perasaan bahagia muncul.

Belum lihat ratingnya di web lain sih, tapi memang cukup bagus filmnya. Walaupun science nya perpaduan antara benar-benar ilmiah dan fiksi belaka serta kekonyolan fiktif filmnya dan ke-kompleks-an filmnya yang membuat binggung dengan menyertakan unsur ruang dan waktu tapi film ini cukup bagus bagi yang suka petualangan luar angkasa. DAN film ini tidak disarankan untuk penderita phobia benda berputar seperti gue walaupun belum akut banget.

Kedua film ini cukup worth it lah. Buat menemani malam dengan suguhan film fiksi yang menyentuh hati, sulutan amarah dalam diri, lelucon yang crispy (I madly in love with Baymax's tos!), pun memberi  pesan moral yang cukup berarti. Lima puluh ribu untuk kedua film itu di Taman Ismail Marzuki XII nggak begitu siasia keluar dari dompet.

Thursday, June 30, 2011

★ Resensi Insidious ★



Beberapa hari yang lalu nonton vilm bioskop.


INSIDIOUS

"It's not the house that's haunted, it's your son!"



It's scary and worth to see!

Gimana tidak, hantunya muncul dengan cocok yang cukup menegangkan.

Dan yang paling terasa, mengagetkan, dan masih tertambat di hati adalah seperti gambar berikut ini:


Fyuuuuh . . .

Benerbener kaget pas ngeliat bagian itu, tiba-tiba saja hantunya muncul.


Renai dan Josh Lambert (Rose Byrne dan Patrick Wilson), beserta ketiga anak mereka, baru saja pindah ke rumah yang baru. Harapan akan kehidupan yang normal dan bahagia sepertinya segera terganggu, karena tidak lama kemudian, Renai mulai merasa mereka tidak sendirian di rumah tersebut. Belum selesai masalah yang satu, masalah lain muncul menyusul, Dalton (Ty Simpkins) yang sedang berada di loteng terjatuh lalu kemudian berteriak histeris karena melihat sesuatu. Ayah dan ibunya pun langsung mendapati anak mereka sedang duduk menatap pojokan dengan sedikit luka memar di kening. Mengira Dalton tidak apa-apa, hanya luka kecil, Renai dan Josh kemudian meninggalkannya tidur dikamarnya. Keesokan harinya, Josh terkejut ketika Dalton tidak segera bangun padahal sudah dibangunkan. Barulah sesampainya di rumah sakit, mereka mengetahui bahwa anak mereka mengalami koma, yang anehnya tidak bisa dijelaskan kenapa, karena tidak terjadi kerusakan serius pada otak Dalton. Dokter mengatakan Dalton akan segera bangun dalam beberapa hari, namun kenyataannya tiga bulan kemudian Dalton yang sekarang dirawat di rumahnya, masih terbaring tak sadarkan diri alias masih koma. Kebetulan atau bagaimana, kejadian yang menimpa Dalton kemudian berbuntut pada kejadian-kejadian supernatural yang saling bergantian hadir mengganggu keluarga Josh.


Err.. tak tahu mau cerita gimana lagi.

Yah silahkan tonton sendiri dan rasakan kengeriannya.


Oh ya BTW ending-nya agak maksa dan menggantung menurutku. Bukan happy ending kalo boleh kubilang sih.

Friday, May 27, 2011

★ Resensi Pirates and the Mermaid ★

Yaaaaaaaaaay!
Pirates and the Mermaid

Jarangjarang banget ada komik yaoi dengan cover bisshie (eh berdua!) bisa muncul di Indonesia. Salut sama Gramedia yeaaaah!

Dari sananya baru muncul 4 volume dan masih ongoing. Di Indonesia sendiri sudah terbit 2 volume.



Berikut sekilas mengenai kedua buku yang telah terbit di Indonesia:



Judul Pirates & the Mermaid 01
No. ISBN 9789792792089
Penulis Tatsuya Kiuchi
Penerbit Elex Media Komputindo
Tanggal terbit Januari - 2011
Jumlah Halaman 200
Berat Buku -
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) -
Kategori Comic
Bonus -
Text Bahasa Indonesia

Diperlakukan seperti benda pajangan dan dirantai dalam kurungan membuatnya muak. Saat mencoba kabur dari kediaman saudagar itu, Hisui bertemu seorang anggota bajak laut. Sang bajak laut itu ternyata mengincar "mermaid" milik sang saudagar.

Hisui yang mendengar itu langsung merasa pelariannya sia-sia. Ada apa gerangan...? Apa hubungan Hisui dengan "mermaid" itu?
Hisui dijual oleh orang-orang di desanya demi uang. Dia dijual pada seorang saudagar kaya yang sangat suka mengkoleksi benda-benda cantik dan indah, termasuk Hisui.



Judul Pirates & the Mermaid 02
No. ISBN 9789792794502
Penulis Tatsuya Kiuchi
Penerbit Elex Media Komputindo
Tanggal terbit April - 2011
Jumlah Halaman 200
Berat Buku -
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) -
Kategori Comic
Bonus -
Text Bahasa Indonesia

Hisui dan kawan-kawan datang ke sebuah kota untuk memperbaiki kapal mereka yang rusak.

Demi mendapatkan uang memperbaiki kapal, Hisui rela mencuri sebuah buku yang sedang dicari seorang pemuda asing yang baru saja ditemuinya. Hanya saja, Hisui tidak mengetahui siapa sebenarnya pemuda yang sebaya dengannya itu.

Setelah memperbaiki kapal, mereka bertolak dari kota itu dan singgah sebentar di sebuah pulau kecil. Celakanya, ternyata para tentara Albadia sedang mencari mermaid di pulau tersebut! Dan kali ini, Lio tidak bisa membiarkan Hisui lolos, sebab ini perintah langsung dari Kaisar...!!


Wednesday, May 25, 2011

★ Resensi Buku Hansel dan Gretel ★


Setelah sebelumnya mencoba meresensi buku “GADIS KOREK API DAN DONGENG-DONGENG LAINNYA” maka sekarang kucoba melanjutkan resensi buku lainnya yaitu “HANSEL DAN GRETEL DAN DONGENG DONGENG LAIN”.


Hansel dan Gretel Dan Dongeng-Dongeng Lain

Oleh Grimm Brothers


Buku ini kubeli bersamaan dengan buku “Gadis Korek Api” dengan harga lebih murah tetapi masih dikisaran 30ribuan.

Lagi-lagi penerbit Atria mampu menarik perhatianku dan membuatku mampu kembali disibukkan dengan membaca cerita klasik. Semoga Atria untuk kedepannya bisa menerbitkan buku-buku Klasik lain yang tak kalah bagus!


Dalam buku ini terdapat 19 cerita klasik. Bertebal 183 halaman dan bersampul hijau bergambar “Hansel dan Gretel”, dengan latar belakang rumah permen dan manisan. Hmm .. yummy!

Cerita dalam buku ini antara lain Musisi dari Bremen, Teka-teki, Tom Ibu Jari, Briar Rose, Dua Belas Putri yang Menari, Pengantin Perampok, Ratu Lebah, Raja Janggut-Mengerikan, Peri Pembuat Sepatu, Acshenputtel, Hansel dan Gretel, Serigala dan Tujuh Kambing Kecil, Pangeran Katak, Frau Holle, Rumpelstiltskin, Tiga Pemintal, Gadis Angsa, Rapunzel , dan Snow White.

Walaupun tidak sesadis Hans Christian Andersen tetapi Grimm Brothers nampaknya cukup ahli juga membuat cerita dengan ending yang beragam.

Pertama, ada cerita Musisi dari Bremen. Sudah kubaca yang lalu kuambil kesimpulan bahwa cerita ini tak ada hubungannya dengan musik. Duh!

Briar Rose? Mungkin dalam Disney kau lebih mengenal cerita berjudul Sleeping Beauty. Ya, keduanya adalah cerita yang sama. Hanya saja dalam cerita original Grimm Brothers ini bahwa putri akan tertidur selama seratus tahun pada usia ke-lima belasnya. Uhh, kau tahu berapa banyak peri yang ada dalam cerita ini? TIGA BELAS –dua belas baik dan satu jahat. Jika kau bertanya kenapa dalam Disney hanya ada tiga peri baik (Flora, Fauna, dan Merryweather) dan satu peri jahat (Maleficent) maka jawabannya adalah Walt Disney cape menggambar tiga belas peri tentu saja cukup susah membuat tiga belas peri sebagai ikon Sleeping Beauty, dengan warna berbeda, dan dengan mengabulkan permintaan yang berbeda-beda pula. Apa kau mau dalam Sleeping Beauty akan ada dua belas peri baik menggumpal menjadi satu dengan warna pelangi dalam kastil yang heboh sendiri tak jelas urusannya? Sebaiknya jangan.

Twelve Dancing Princess. Ya, Dua Belas Putri yang Menari menjadi cerita ke-lima dalam buku ini. Ceritanya menarik, walaupun kuanggap bahwa ke-Dua Belas Putri yang ada malah mendapat peran antagonis di sini. Kutahu sebelumnya cerita ini dalam salah satu serial Barbie berjudul “Barbie in the Twelve dancing Princess”. Cerita dalam film itu cukup menarik yang ternyata memang cerita original oleh Grimm Brothers sendiri tidak mengecewakan.

Kemudian ada Cinderella. Huh? Cerita yang mana? Tentu saja cerita berjudul Acshenputtel adalah tentang Cinderella. Ah, kesadisan Grimm Brothers sangat tersirat dalam “mengorbankan” kedua saudara tiri Acshenputtel. Kaki berdarah-darah! Aku jadi ingin ada remake Cinderella bahwa dia menjadi cacat karena kakinya terkena pecahan sepatu kacanya –bahwa sepatu kacanya pecah saat dia berlari dikejar oleh pangeran dalam event jam dua belas malam. Ya salah dia sendiri mau berlari pake sepatu kaca! Mau-maunya dibegoin sama fairy godmothernya!

Pangeran Katak atau Frog Prince. Tahun lalu Disney merelease cerita serupa berjudul The Princess and the Frog yang hanya saja ceritanya agak sedikit diubah pada kutukan ciuman kataknya.

Hansel dan Gretel. Ah, siapa yang tak kenal dengan mereka? Pokoknya cerita ini identik dengan permen! BTW jadi teringat bahwa Gretel Doll susah dicari di Pet Society . Grooaarrr!

Rapunzel, Rapunzel, let down your hair!” adalah kata yang akan selalu ada dalam setiap seri Rapunzel versi apa saja. Disney juga mengadaptasi cerita ini yang juga direlease baru-baru ini. Sekali lagi bahwa remake Disney agak maksa dan terkesan mengecewakan bagi para penikmat cerita klasik. Sejak kapan Rapunzel punya rambut ajaib yang bisa bersinar saat bernyanyi dan dapat mengabulkan permohonan?

Judul terakhir dalam buku adalah Snow White, yang lalu oleh Disney ditambah judulnya menjadi “Snow White and the Seven Dwarves”. Cerita versi Disney kurang lebih sesuai dengan cerita original milik Grimm Brothers yang tentu saja kurcacinya tak bernama. Sad-ending untuk para kurcaci, yang tetap tinggal di hutan padahal si Snow White sudah diperistri seorang pangeran. Itu Snow White kejam amat kagak mau ngajak para kurcaci yang memberinya tempat tinggal selama dia terlunta-lunta di hutan! Minimal ajak mereka tinggal di istana juga keq!


Singkatnya bahwa aku lebih suka buku “Hansel dan Gretel” ini ketimbang buku “Gadis Korek Api”. Mungkin juga karena buku ini ada BONUS pembatas bukunya. Hahaha.

Banyak cerita terkenal dalam buku ini. Ah, aku paling suka dengan cerita Twelve Dancing Princess. Juga cerita klasik para princess Disney!


Sekarang menunggu penerbit Atria mengeluarkan buku Klasikyang lainnya. Masih banyak lho cerita karangan Hans Christian Andersen dan Grimm Brothers yang lainnya. Pengarang lain juga boleh! Kalo boleh kusarankan pada Atria-nya bahwa perbanyak buku cerita klasiknya deh! Pasti para penikmat sepertiku banyak yang beli!


Tuesday, May 24, 2011

★ Resensi Buku Gadis Korek Api ★

Sebagai pembuka bahwa aku tidak tahu bagaimana membuat resensi yang baik untuk sebuah buku tapi tetap akan kucoba dengan versiku tentu saja. Tentang buku berjudul “GADIS KOREK API DAN DONGENG-DONGENG LAINNYA” yang diterbitkan oleh penerbit Atria.


Gadis Korek Api Dan Dongeng-Dongeng Lainnya

Oleh Hans Christian Andersen


Kubeli waktu itu di Gramedia dengan harga sekitaran 30ribuan. Lumayanlah untuk menambah koleksi cerita klasikku.

BTW memang Atria banyak mengeluarkan cerita klasik –yang ditandai dengan ikon “Klasik” di pojok kiri atas.


Terdapat 10 cerita klasik dalam buku ini. Bertebal 267 halaman dan sampul buku bernuansa merah gelap dengan gambar cerita “Gadis Korek Apiyang membuatku ilfil setengah mati untuk baca cerita ini karena gambarnya sangat .. err unik!

Cerita dalam buku ini antara lain Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Angsa-Angsa Liar, Sang Putri Sejati, Thumbelina, Burung Bulbul, Gadis Korek Api, Ratu Salju: Dongeng dalam Tujuh Kisah (Serpihan Cermin, Bocah Laki-Laki dan Gadis Kecil, Taman Perempuan Penyihir, Pangeran dan Putri, Gadis Perampok Cilik, Perempuan Lapland dan Perempuan Finlandia, Kejadian di Istana Ratu Salju dan Akibatnya), Baju Baru Kaisar, Kisah Rembulan, Anak Itik Buruk Rupa.

BTW Kau bisa melihat bercak dan goresan darah di beberapa bagian sampul buku depan maupun belakang yang membuat buku ini bernuansa agak suram. Ya karena memang ada cerita-cerita yang berakhir dengan sad-ending.


Sebutlah Kisah Cinta Putri Duyung Kecil yang mati dan menjadi buih terkatung-katung di lautan dan kemudian terbang di angkasa karena pangerannya menikahi perempuan lain. Jika kau membayangkan cerita The Little Mermaid-nya Disney, maka kau akan berpikir bahwa cerita original Hans Christian Andersen begitu suram -berbeda dengan Ariel yang menikah dengan Eric sang pangeran dan happily ever after.

Lanjut ke Gadis Korek Api. Tipikal cerita sad-ending entah mau diubah, entah retold, entah diceritakan kembali ke versi mana saja tapi endingnya tetap seperti itu, kematian sang gadis. Ah, ini gadis tak bernama ya? Jadi susah nyebutnya. Di dalam cerita saja selalu disebut Gadis Korek Apimelulu. Kenapa Gadis Korek Api bukannya Gadis PENJUAL Korek Api? Kalo Gadis Korek Apikesannya bahwa gadis ini adalah siluman korek api. xDD

Ah ya, jujur saja bahwa aku lumayan malas sibuk bacanya, jadi baru kubaca sebagian isinya, itu juga loncat-loncat bacanya. Pokoknya kalo ceritanya tidak terkenal aku tidak mau baca dulu. Pokoknya kalo ceritanya panjang akan kubaca belakangan.

Thumbelina, sang gadis sekecil jempol. Endingnya bahwa si Thumbelina balik lagi ke rumah neneknya. Ah, tapi aku akan tetap berharap suatu hari nanti akan ada remake Thumbelina bahwa Thumbelina mati terinjak orang saat dia berkeliaran di jalanan. Salahnya sendiri kabur dari rumah!

Sang Putri Sejati, atau lebih terkenal dengan judul The Princess and the Pie. Terima kasih pada Pet Society karena berkat game itu aku tahu cerita klasik yang satu ini, tentang seorang putri yang tidur di atas 20 tumpukan kasur dengan butir kacang di sela-sela kasur terbawahnya. Simbol dari cerita ini adalah tumpukan kasur. Jika kau menemui cerita ini yang di remake atau disadur atau dibuat atau diapakanlah ke media lain yang bergambar, kau pasti akan melihat gambar tumpukan kasur dengan seorang gadis tertidur di atasnya. Eh ya, ceritanya dalam buku ini CUMA tiga lembar lho!

Baju Baru Kaisar atau Emperor’s New Clothes dalam bahasa inggrisnya. Pasti sudah banyak yang tahu cerita ini, garis besarnya bahwa seorang kaisar yang dibegoin memakai baju bohongan oleh penipu-berkedok-penjahit hingga di tengah kampanyenya seorang anak kecil berteriak bahwa sang kaisar ternyata dibegoin tidak memakai baju.

Anak Itik Buruk Rupa. Ya, The Ugly Duckling adalah cerita penutup dalam buku ini. Tak banyak yang harus kuceritakan juga karena ya memang ceritanya tentang anak itik buruk rupa yang kemudian berubah menjadi sesosok angsa putih yang cantik jelata jelita. Ah, cerita yang satu ini juga kuharap ada remake bahwa sang itik buruk rupa mati ditembak pemburu sebelum dia sempat berubah menjadi angsa. Auch!


Secara keseluruhan memang menarik untuk dibaca, jadi cobalah untuk menikmatinya sendiri. Aku sendiri belum membaca kisah Ratu Salju dengan tujuh cerita didalamnya dan Rembulan dengan sub-cerita TIGA PULUH TIGA judul. Wew!